Rura Silindung

Tarutung-Siopat Pusoran

(dikutip dari humbahas.blogspot.com)
Daerah Tarutung yang menjadi ibukota Tapanuli Utara dahulu merupakan wilayah Silindung. Sebuah wilayah yang dihuni oleh marga Pasaribu. Kumpulan marga-marga yang serumpun dengan Pasaribu disebut Siopat Pusoran.
Mereka itu adalah Matondang, Tarihoran, Bonda dan Habeahan. Namun entah kenapa pada masa sekarang berdasarkan rapat Pasaribu Saruksuk mereka yang disebut Opat Pusoran tersebut adalah Habeahan, Bondar, Gorat dan Saruksuk.

Kota Tarutung sendiri mulai dikenal saat marga Hasibuan mulai datang dan menikah dengan boru Pasaribu yaitu Guru Mangaloksa Hasibuan.

Setelah itu GM Hasibuan mempunyai anak-anak yaitu Si Raja Nabarat (Hutabarat), Si Raja Gabe (Panggabean), Si Raja Galung (Hutagalung), Si Raja Toruan (Hutatoruan). Berafiliasi menjadi Hutabarat, Panggabean anak-anaknya Panggabean dan Simorangkir, Hutagalung, Hutatoruan anak-anaknya Hutapea dan Lumbantobing.

Dominasi komunitas muslim marga Hutagalung dalam bidang ekonomi di Tanah Batak terjadi antara 1513-1818 M. Mesjid pertama di Silindung didirikan oleh marga Hutagalung pada abad 14. Komunitas muslim ini dengan karavan-karavan kuda menjadi komunitas pedagang penting yang menghubungkan Silindung, Humbang Hasundutan dan Pahae. Pada abad ke-16 ini marga Hutagalung mendirikan mesjid lokal kedua di Silindung.

Marga Hutagalung ini juga yang diyakini pertama sekali membangun pelabuhan maritim di Sibolga yang menjadi cikal bakal kota Sibolga sekarang. Secara umum kalangan Siopat Pusoran, menguasai daerah Silindung sampai pesisir Sumatare Utara. Sultan Ibrahimsyah Pasaribu merupakan tokoh pimpinan kesultanan Barus Raya (Hilir) dari rumpun marga ini.

Dalam politik ekonomi, Kelompok Siopat Pusoran selalu berlawanan secara politik di era dinasti Sisingamangaraja. Alasannya adalah kompetisi dalam penguasaan jalur ekonomi dari dan ke tanah Batak. Persaingan itu terus berlanjut sampai zaman penjajahan Belanda dimana Raja Huta, Pontas Lumbantobing dari Saitnihuta, Silindung, menjadi antipode dari Sisingamangaraja XII, maharaja di wilayah huta-huta Batak, dan menjadi pihak pendukung Belanda.

Dimasa sekarang, Keturunan Siopat Pusoran banyak yang berhasil dan menjadi
tokoh penting di Indonesia. Contohnya, Jenderal M. Panggabean dan F.L Tobing serta masih banyak lagi yang menjadi konglomerat dan bupati/walikota di Sumatera Utara.

Menurut wikipedia: Hutagalung adalah salah satu marga dari suku batak, termasuk golongan batak toba. Hutagalung merupakan salah satu anak dari Hasibuan, memiliki 3 saudara, yaitu Tobing, Hutabarat, dan Panggabean. Keturunan marga Hutagalung dilarang menikah dengan sesama marga Hutagalung dan dengan marga Hasibuan.

Kelompok Marga Hutagalung di Tarutung merupakan elemen pertama Batak melakukan kontak dengan dunia luar di pesisir barat Sumatera. Mereka menjadi penghubung antara masyarakat pedalaman Batak dan dunia internasional karena profesi mereka yang pedagang.

Di Tarutung, mereka membangun mesjid pertama pada abad-14 dan beberapa mesjid berikutnya namun semuanya dihancurkan oleh penjajah Belanda pada abad ke-19. Keturunan Hutagalung, khususnyanya yang muslim dibasmi oleh Belanda dari Silindung.

Daerah lain di Tarutung adalah Sipoholon yang dihuni marga turunan Naipospos seperti Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Marbun dll

4 Responses

  1. mauliate lae… aku baru tau ceritanya begini, maklum merantau nih…

  2. cerita ini agak diragukan lae
    1. berhubung mesjid itu masih ada,
    kalau ada pembantaian besar-besar sudah dari dulu mesjid itu dibumihanguskan
    2. hegemoni agama sepertinya tidak mempan untuk masyarakat batak, sebab kekuatan adat masih menonjol. kemungkinan akan terjadi perang adat jika terjadi pembantaain tulang, boru, bere…

    antar songon i ma jo sian hami angka parhobas-on

  3. untuk no 1.
    ada baiknya membaca sedikit sejarah silindung yang di kupas di buku Tuanku RAO yang di tulis oleh Mangara Onggong. Dalam buku ini sangat banyak cerita tentang Orang batak dari dulu sampe sekarang.

    untuk no 2.
    juga ada di buku itu.
    buku itu sangat bagus dan sangat aku rekomendasikan utnuk dimiliki setiap kalangan orang batak yang ingin tau seperti apa batak itu dari dulu sampe sekarang.
    bagaimana cerita Tentara Padri (klo orang kita ngomong Tingki Ni Pidari). membumi hanguskan tanah batak utara. dan mereka mundur dari tanah batak utara hanya karena diserang Kolera dan Epidemics.

  4. Horas lae, salam kenal.
    Saya tidak akan mengomentari isi tulisan di atas, hanya menyampaikan pendapat sedikit tentang buku Tuanku Rao, menurut ku banyak hal ganjil dalam buku tersebut, saya tidak tau apakah buku tersebut ditulis oleh MOP Siregar dengan riset atau hanya karangan belaka. Saya lebih tertarik melihat sejarah tanah batak dari buku Toba Na Sae, tulisan dari Sitor Situmorang. Bahkan saya pernah membaca sebuah artikel, yang mengatakan bahwa Sitor Situmorang menganggap buku Tuanku Rao lebih sebagai fiksi sejarah daripada buku Sejarah Ilmiah.
    Tapi secara keseluruhan buku Tuanku Rao dan Toba Na Sae adalah buku yang bagus untuk dibaca, namun perlu pemikiran kritis agar dalam melihat nilai objektifnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: